Beda Konstruktivisme dengan Pembelajaran Tradisional ‎‎(Bye-bye Metode Kuno!)

konstruktivisme

Hai, Sobat!

Selamat datang kembali di seri pembahasan ‎konstruktivisme

Kali ini, kita akan membandingkan konstruktivisme dengan metode pembelajaran ‎tradisional yang mungkin sudah akrab di telingamu.

Siap-siap untuk mengucapkan selamat tinggal ‎pada metode kuno!‎

Mari kita lihat perbedaan antara konstruktivisme dengan metode pembelajaran tradisional yang ‎biasa kita jumpai di kelas.‎

Pertama, dalam metode tradisional, guru berperan sebagai pusat pengetahuan. Mereka ‎menyampaikan informasi kepada siswa, sedangkan siswa mendengarkan dan mencatat. Di sisi lain, ‎konstruktivisme memberikan peran yang lebih aktif kepada siswa. Siswa terlibat dalam eksplorasi, ‎bertanya, dan membangun pemahaman mereka sendiri. Mereka menjadi penjelajah pengetahuan ‎yang tidak hanya mengikuti instruksi guru, tetapi juga berinteraksi dengan materi pelajaran secara ‎aktif.‎

Selanjutnya, dalam metode tradisional, penilaian biasanya berfokus pada tes dan ujian tertulis. ‎Siswa diuji terhadap seberapa banyak informasi yang mereka ingat dan dapat reproduksi. Di ‎konstruktivisme, penilaian cenderung lebih luas dan inklusif. Penilaian dapat mencakup karya-karya ‎proyek, presentasi, dan diskusi kelompok. Siswa dinilai berdasarkan kemampuan mereka dalam ‎mengaplikasikan pengetahuan dalam situasi nyata, berpikir kritis, dan berkolaborasi dengan baik.‎

Selain itu, konstruktivisme juga menekankan pembelajaran yang relevan dengan konteks ‎kehidupan siswa. Materi pelajaran dihubungkan dengan pengalaman dan kepentingan siswa. ‎Dengan demikian, siswa lebih termotivasi dan melihat nilai penting dari apa yang mereka pelajari.‎

Dalam konstruktivisme, lingkungan kelas juga berbeda. Keterlibatan siswa dalam diskusi, ‎kolaborasi, dan pemecahan masalah menjadi lebih aktif. Guru menjadi fasilitator pembelajaran, ‎memberikan bimbingan dan dukungan kepada siswa dalam membangun pengetahuan mereka.‎

Dengan menggunakan pendekatan konstruktivis, pembelajaran menjadi lebih menantang dan ‎menyenangkan. Siswa merasa lebih terlibat dan memiliki kontrol atas pembelajaran mereka ‎sendiri. Mereka belajar bukan hanya untuk lulus ujian, tetapi juga untuk mengembangkan ‎pemahaman yang mendalam dan relevan dengan kehidupan mereka.‎


Metode Pembelajaran Tradisional:‎

Guru sebagai satu-satunya sumber pengetahuan: Dalam metode tradisional, guru dianggap sebagai ‎satu-satunya sumber pengetahuan. Siswa mendengarkan dan mencatat apa yang guru katakan ‎tanpa banyak interaksi.‎

  • Penerimaan pasif: 

Siswa lebih pasif dalam metode ini, karena informasi diterima begitu saja tanpa ‎melibatkan proses berpikir lebih mendalam.‎

  • Satu arah komunikasi: 

Komunikasi lebih bersifat satu arah dari guru ke siswa. Siswa jarang diajak ‎berdiskusi atau berpartisipasi aktif.‎

  • Mengutamakan hafalan:

Metode tradisional sering mengutamakan hafalan materi tanpa ‎memahami konsep yang lebih luas.‎


Konstruktivisme:‎

  • Aktif dan interaktif: 

Dalam konstruktivisme, siswa menjadi lebih aktif dan terlibat dalam ‎pembelajaran. Mereka berpikir, merenung, dan bertanya untuk membangun pemahaman mereka ‎sendiri.‎

  • Pembelajaran berpusat pada siswa:

Peran guru berubah menjadi fasilitator yang membantu siswa ‎mengeksplorasi dan memahami konsep-konsep baru.‎

  • Diskusi dan kolaborasi:

Konstruktivisme mendorong komunikasi dua arah, siswa diajak berdiskusi ‎dan bekerja sama dalam kelompok.‎

  • Pemahaman lebih dalam:

Lebih dari sekadar hafalan, konstruktivisme menekankan pemahaman ‎yang lebih mendalam tentang konsep dan penerapannya dalam situasi nyata.‎


Dengan konstruktivisme, pembelajaran menjadi lebih menantang dan menyenangkan!

Kamu ‎punya kesempatan untuk aktif berpartisipasi, mengemukakan pendapat, dan berkolaborasi ‎dengan teman-temanmu.

Kamu bisa lebih bebas dalam mengeksplorasi ide-ide dan membangun ‎pengetahuanmu sendiri.‎


Jadi, Sobat sudah siap meninggalkan metode kuno dan menyambut pembelajaran ‎konstruktivis yang seru? 

Pada artikel berikutnya, kita akan lebih dalam lagi membahas tentang ‎konstruktivisme dalam kelas dan bagaimana guru menerapkannya. Jadi, tetap semangat ya!‎


--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Bersambung ke poin 4: "Konstruktivisme dalam Kelas (Pengalaman Belajar Seru!)".‎

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


Jangan lewatkan artikel selanjutnya untuk mengetahui lebih banyak tentang konstruktivisme dan ‎bagaimana cara penerapannya dalam pembelajaran di dalam kelas. Selamat menikmati ‎pengalaman belajar yang lebih menarik dan aktif dengan konstruktivisme!‎


0 Response to "Beda Konstruktivisme dengan Pembelajaran Tradisional ‎‎(Bye-bye Metode Kuno!)"

Post a Comment

Thanks For Your Comment :)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel